Sunday, November 18, 2012

Belasan Tewas Dalam Demonstrasi Anti Ghadafi


Bentrokan antara demonstran anti pemerintah dengan aparat keamanan pecah di dua kota utama di Libya pada Kamis hingga Jumat, 17-18 Februari 2011. Belasan orang dilaporkan tewas diterjang peluru tajam aparat keamanan maupun tim penembak jitu.
Demonstrasi yang dinamakan “Hari Kemarahan” diikuti oleh ribuan orang yang berkumpul berkat sebuah pengumuman di grup Facebook yang bernama sama. Grup Facebook yang beranggotakan hingga 9.500 orang itu dilaporkan turun ke jalan-jalan di kota Benghazi dan Beyida, kota kedua dan ketiga terbesar di Libya.

Massa dihadang oleh aparat keamanan yang telah bersiaga dengan persenjataan penuh. Pemerintah Libya terkenal mengekang media massa, sehingga tidak ada koresponden media asing yang berada di lokasi, sehingga laporan peristiwa maupun korban tewas didasarkan pada laporan LSM maupun laporan kelompok oposisi. Jumlah korban berbeda-beda tiap media, namun dipastikan angka yang tewas mencapai belasan.

Berdasarkan laporan dari situs oposisi dan anti pemimpin Libya Moammar Ghadafi, dilansir dari kantor berita Associated Press (AP), terdapat 19 orang yang tewas di kota Benghazi dan Beyida. Mereka dilaporkan tewas akibat ditembak oleh sniper dari kesatuan keamanan dalam negeri.
AP juga mengutip laporan dari Amnesty internasional (AI) yang melaporkan jumlah yang berbeda. AI menyatakan terdapat 12 demonstran yang tewas pada bentrokan selama dua hari tersebut.  AI mengatakan bahwa aparat menggunakan peluru tajam dalam menghadapi para demonstran.

“Polisi dan aparat keamanan Libya harus menghargai hak para demonstran, jangan menyerang mereka. Pemerintah harus menghentikan hal ini dan memerintahkan penyelidikan terhadap kematian dan kekerasan yang terjadi selama ini,” tulis AI pada pernyataannya.

Menurut organisasi Human Right Watch, dilansir dari stasiun berita CBS News, bentrokan juga terjadi di ibukota Libya, Tripoli. Sebanyak 14 orang dilaporkan ditahan oleh aparat keamanan.
Mengutip dari laman oposisi, Al-Youm, CBS melaporkan sedikitnya 20 orang tewas dalam bentrokan di beberapa kota di Libya. Menurut situs tersebut, peluru tajam dan sniper adalah penyebab utama kematian demonstran.

Mohammed Ali Abdellah, wakil pemimpin Front Keselamatan Libya, mengatakan bahwa rumah sakit di Beyida mengeluhkan kurangnya pasokan obat-obatan untuk merawat korban luka pada bentrokan yang jumlahnya cukup banyak. Pemerintah, ujar Ali, menolak untuk memberikan pasokan obat tambahan.

Sementara itu, stasiun berita CNN melaporkan saat ini massa pro pemerintahan Ghadafi menguasai Tripoli sejak Kamis malam. Pada siaran langsung yang ditayangkan televisi yang dikuasai pemerintah, ditayangkan situasi Jumat pagi, massa pro-Ghadafi berpawai mengelu-elukan namanya.

Demonstrasi anti pemerintahan Ghadafi, yang mereka nilai otoriter, dimulai sejak Rabu, 16 Februari 2011. Massa juga menuntut dibebaskannya ribuan tahanan politik dan penyelidikan menyeluruh pembantaian di penjara Abu Slim Juni 1996 lalu. [vivanews.com]

Ditulis Oleh : blogger's // 4:23 AM
Kategori:

 
Powered by Blogger.